Download this Blogger Template by Clicking Here!

PROFIL

https://web.facebook.com/irwan.a.lovers

Kamis, 10 Desember 2015

Widgets

Pelaksanaan Shalat Hadiah di Kabupaten Kerinci Ditinjau Dari Fiqih




              Pelaksanaan shalat yang benar menurut Islam adalah pelaksanaan yang dapat dipertanggung jawabkan secar syar’i yang senantiasa merujuk kepada  dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai sumber utama dari hukum Islam itu sendiri. Allah SWT sebagai pencipta hukum mengutus rasulnya yang berfungsi untuk menjelaskan hukum-hukum Allah kepada manusia. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an .

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون
Artinya :” Dan Kami turunkan kepadamu al- Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (Q.S. an-Nahal :44)

Karena itu apa-apa yang disampaikan oleh rasul pada hakikatnya adalah perintah Allah SWT yang diturunkan kepada manusia untuk dapat diikuti, dilaksanakan dalam kehidupan mereka.
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya : “Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Alla,. sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Q.S al-Hasyr : 7 )
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Artinya : “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.S. an-Nisa’ : 80 )

Perintah  taat kepada Allah dibaringi  dengan perintah taat kepada Rasul, Oleh karena itu setiap  ibadah mesti berasal dari Allah dan rasul-Nya, dan Rasulullah sebagai utusan-Nya bertugas  menyampaikan tasyri’ tersebut dan dan mempraktekkannya  baik melalui perbuatannya, maupun perkataannya. Dengan demikian syariat adalah hak otoritas Allah semata. Dan syariat itu pada hakikatnya sudah final pada masa Nabi Muhammad SAW, namun jika terdapat beberapa praktek ibadah yang tidak bersumber dari Allah dan rasul-Nya maka itu adalah suatu penyimpangan dari syari’at.
Untuk menghukumi terhadap suatu perkara, apakah ia berasal dari Allah dan rasul-Nnya ataukah tidak,  maka hendaklah kita selalu mengedepankan hukum Allah SWT dan menjauhkan diri dari gejolak hawa  nafsu,  dalam hal ini Allah SWT memperingatkan manusia.
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُون
      Artinya  : “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. ( Q.S. al-Maidah : 49 ).

Ayat ini menjelaskan agar manusia menghukumi setiap perkara yang hadir di tengah  masyarakat dengan  selalu berpegang  kepada hukum Allah (al-Qur’an)  sebagai sember rujukan yang paling utama. Dalam hal ini Rasulullah juga pernah berkhutbah :
عن ابن عباس : أ ن رسو ل الله صلى ا لله عليه و سلم خطب النا س في حجة الوداع فقا ل  ......   يا أ يها الناس أ ني قد تركت فيكم ما ا ن اعتصمتم به فلن تضلوا أ بد : كتا ب الله و سنة  نبيه صلى ا لله عليه و سلم ...... ( رواه الحا كم )[1]
 “ Dari Ibn Abbas, bahwanya Rasullullah SAW, memberikan khutbah kepada manusia  di waktu haji wada’. Ia bersabda : “ Wahai manusia sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu bagi kalian tidak akan sesat selama-lamanya selagi kalian berpegang kepada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah Nabi SAW.” ( H.R. al-Hakim ).
Untuk menilai pelaksanaan shalat hadiah di Kabupaten Kerinci dalam Persfektif hukum Islam penulis menggunakan tiga Pendekatan, hal ini dimaksudkan dengan tiga pendekatan ini akan dapat memperjelas secara lebih mendalam tentang pelaksanaan shalat hadiah di Kabupaten Kerinci yaitu :
1. Pendekatan Hukum Islam ( ilmu Fiqih ), tinjauan pembahasannya ini lebih ditekankan kepada pendapat-pendapat ulama-ulama fiqh tentang shalat hadiah yang merujuk kepada kitab –kitab fiqih standar, baik karya imam mujtahid mutlak, ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali ),  ulama-ulama kalangam Syafi’iyyah, maupun pendapat ulama-ulama kontemporer (modren ) . 
2. Pendekatan ilmu hadis,  tinjauan pembahasannya lebih kepada aspek dalil yang digunakan, kemudian dianalisis sesuai ilmu hadis tentang kwalitas dan kehujjahan hadis tentang shalat hadiah tersebut.
3. Pendekatan ilmu ushul fiqih,  tinjauan pembahasan lebih kepada aspek tradisi, adat (urf)  dalam masyarakat kemudian dianalisis sesuai ilmu ushul fiqih.
1.      Pendekatan Hukum Islam ( Fiqih )
            Berdasarkan Penelusuran yang penulis lakukan terhadap kitab-kitab fiqih, penulis menemukan beberapa pendapat ulama tentang shalat-shalat sunnah sebagai berikut  :
a.       Syekh Abiy Bakr, Dalam kitabnya I’anat al-Thalibin menyebutkan : “Shalat sunnah ada dua macam,  pertama,  shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah.  Yang kedua,  shalat sunnah yang diajurkan untuk berjamaah
 و صلا ة النفل قسمان قسم لا تسن له جماعة وهي كا الرواتب وصلاة الضحى و تحية المسجد  و صلاة الاستخارة  وصلاة احرام وصلاة طواف وصلاة  بعد الوضوع  وصلاة الآوبين و صلاة التثبيح وصلاة التهجد وصلاة المطلق . وقسم ما تسن فيه الجماعة وهو صلاة العيد وصلاة الكسوفين اي كشو ف الشمس و القمر وصلاة استسقاء وصلاة التراويح[2]
Shalat sunnah ada dua macam,  pertama  shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah seperti shalat rawatib, shalat witr, shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid, shalat, istikharah, shalat ihram, shalat thawaf, shalat sesudah berwuduk, shalat awwabin dan shalat tasbih  shalat tahajjud dan shalat mutlak.  Yang kedua  shalat sunnah yang diajurkan untuk berjamaah yaitu shalat sunanh idul fitri dan idul adha, shalat gerhana, shalat  kusuf, shalat  istisqa’dan  shalat tarawi,” .
            Dari kutipan Syekh Abiy Bakr,  di atas disebutkan bahwa shalat-shalat sunat dalam Islam itu antara lain :  shalat rawatib, shalat witir, shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid, shalat, istikharah, shalat ihram, shalat thawaf, shalat sesudah berwuduk, shalat awwabin[3] dan shalat tasbih  shalat tahajjud dan shalat mutlak.  idul fitri dan idul adha, shalat gerhana, shalat  kusuf, shalat  istisqa’ dan  shalat tarawih.
b.  Ibnu Hajar al-Haytami dalam karyanya Tuhfah al-Muhtaj mengatakan :
صلا ة النفل قسما ن قسم لا تسن جما عة فمنه الروا تب مع الفر ا ئض  و بعد الجمعة ار بع والو تر والضحى و تحية المسجد  و صلا ة الا و بين  و صلاة التسبيح .  وقسم من النفل يسن الجما عة كا العيد والكسو ف والا ستسقا ء والتراويح [4]
 Shalat sunat dibagikan kepada dua macam,  yaitu shalat sunat yang tidak disunatkan berjamaah yaitu shalat yang mengeringi shalat-shalat fardu, shalat sesudah shalat jum’at, dan shalat witir, tahiyatul masjid, shalat awwabin dan shalat tarawih. Dan shalat sunat yang disunatkan berjamah seperti shalat aid (hari raya) shalat kusuf (gerhana matahari) shalat istisqa’ dan shalat tarawih”.
c.  Pendapat Abdul Rahman al-Jaziriy, dalam karyanya yang sangat dikenal  Mazahibul Arba’ah membuat pengertian tentang shalat sunat :
صلا ة التطوع هي ما يطلب فعله من المكلف زيا دة على المكتو بة طلبا غير جا زما و هي اما أن تكو ن غير تا بعة للصلا ة المكتو بة وهي اما ان تكو ن غير تابعة للصلاة كصلا ة  ضحى و تحية المسجد وصلاة ركعتين عقب الوضوء وعند الخروج السفر أو القدوم منه والتهجد باليل وركعتا الاستخارة و صلاة قضاء الحواءج , صلاة الوتر , صلاة التراويح , صلاة العيد ين ,صلاة الاستسقاء , صلاة الكسو ف الشمس ,صلاة الخسوف القمر, والصلاة عند الفراغ. و اما ان تكون تا بعة للصلاة المكتو بة كا لنوافل القبلية والبعدية  [5]
Shalat sunat (tatawwu’ ) adalah shalat yang dianjurkan untuk dilakukan kepada orang yang mukallaf untuk mengerjakannya, sebagai tambahan bagi shalat yang fardu, tetapi tidak diwajibkan, ia disyariatkan untuk menampal kekurangan yang mungkin terjadi pada saat-saat shalat fardu. Shalat sunat ini ada yang dilaksanakan dalam waktunya sendiri (tidak mengiringi shalat fardu) seperti shalat dhuha, shalat tahiyatul Masjid,  shalat dua rakaat ketika berwuduk, shalat keluar untuk musafir, dan kembali dari musafir, shalat tahajjud, shalat dua hari raya, shalat istisqa’, shalat khusuf matahari, shalat gerhana bulan, shalat ketika lapang. Disampng shalat tersebut ada juga shalat sunnat yang mengeringi shalat-shalat fardu seperti shalat qabliyah dan ba’diyah”.
                       Jadi, Menurut Abdul Rahman al-Jaziriy shalat-shalat sunat yang dianjurkan adalah shalat dhuha, shalat tahiyatul Masjid,  shalat dua rakaat ketika berwuduk, shalat keluar untuk musafir, dan kembali dari musafir, shalat tahajjud, shalat dua hari raya, shalat istisqa’, shalat khusuf matahari, shalat gerhana bulan, shalat ketika lapang.  Disamping shalat tersebut ada juga shalat sunnat yang mengeringi shalat-shalat fardu seperti shalat qabliyah dan ba’diyah
d.      Prof Dr. Sayyid Sabiq, dalam kitabnya Fiqih Sunnah, menyebutkan bahwa shalat sunnat terbagi menjadi shalat sunat mutlaq  dan shalat sunat muqayyad. Shalat sunat mutlak sah dikerjakan dengan niat mengerjakan tampa  menyebukan bilangan rakaatnya. Shalat sunat muqayyad terikat oleh waktu-waktunya antara lain adalah shalat rawatib, shalat witir, shalat qiyamulail, shalat tarawih, shalat dhuha, shalat istikharah, shalat tasbih, shalat hajat, shalat tobat, shalat gerhana dan shalat istisqa’.[6]
e.       Imam al-Gazali  dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-din, menyebutkan  : “Shalat sunat  yang selain  shalat   fardu itu  dibagikan kepada empat :  Pertama, shalat yang dikerjakan dalam satu hari satu malam. Kedua, shalat yang dikerjakan dalam setiap hari dan malam dalam satu minggu. Ketiga,  shalat yang dikerjakan karena berhubungan dengan bulan atau tahun.  Ke empat,   shalat sunat yang dikerjakan disebabkan hal-hal tertentu dan tidak bersangkut paut dengan waktu.
 اعلم أن ماعدا الفرائض من الصلوات ينقسم الى اربعة أ قثام  القسم ا لاول ما يتكرر بتكرر الايام والليالى وهي رواتب الصلوا ت الخمس صلاة الضحى صلاة التهجد . القسم الثانى ما يتكرر بتكرر الأسا بيع اربع ركعة يوم الاحد ركعتين يوم الاثنين , عشر ركعا ت يوم الثلا ثا ء, اثنتى عشر ة يوم ا لاربعاء , ركعتين يوم       الخميس . ا ربع ركعا ت يو م الجمعة , أربع ركعا ت يوم السبت . القسم الثا لث ما يتكرر بتكرر السنن وهي ار بعة الصلا ة العيدين وترا و يح و رجب وثعبا ن . القسم الربع من النوا فل ما يتعلق نأ سبا ب عا رضة ولا يتعلق بالموا قيت وهي ستة صلاة الخسو ف والكسوف والاستسقا ء وتحية المسجد وركعتى الو ضو ء وركعتين بين ا لاذان والاقامة وركعتين عند الخروج من ا لمنزل و الد خو ل فيه  , و صلاة
الا ستحا رة  و صلاة الحا جة و صلا ةالتسبيح .[7]
Shalat sunat  yang selain  shalat     fardu itu  dibagikan kepada empat, yaitu ,    1. Shalat yang dikerjakan dalam satu hari satu malam yaitu shalat rawatib, shalat shalat dhuha dan shalat tahajjud  2. Shalat yang dikerjakan dalam setiap hari dan malam dalam satu Minggu. Yaitu empat rakaat pada hari Minggu,  shalat dua  rakaat pada hari Senin, sepuluh rakaat pada hari selasa, shalat dua belas rakaat pada hari Rabu, dua rakaat pada hari Kamis, shalat empat rakaat pada hari Jum’at , Shalat empat rakaat pada hari Sabtu  3. Shalat yang dikerjakan karena berhubungan dengan bulan atau tahun yaitu shalat dua hari raya, shalat tarawih, shalat rajab dan shalat sa’ban 4. Shalat sunat yang dikerjakan disebabkan hal-hal tertentu dan tidak bersangukut paut dengan waktu yaitu shalat khusuf dan kusuf, shalat istisqa’ , shalat tahiyat masjid, shalat jenazah, shalat tahiyat masjid, shalat sesudah berwuduk, shalat apabila kembali dari musafir dan keluar dari tempat tinggal, shalat istikharah, shalat hajat, dan shalat tasbih”. 
Shalat- shalat sunat yang disebut oleh al-Gazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-din ini,  banyak mendapat tanggapan dan kritikan dari sebahagian pakar-pakar hukum seperti  Ibnu Hajar al-Haytami, Dalam kitabnya  Tuhf  al-Muhtaj bi Syarh al- Minhaj , mengatakan :
و الصلا ة المعرو فة ليلة الرغا ئب ونصف شعبا ن بد عة قبيحة و حد يثها مو ضو ع [8]
“Dan shalat yang dikenal seperti pada shalat pada malam raghaib, ( di Jawa shalat seperti tobatan, ) dan shalat nisfu  sa’ban adalah bid’ah qobihah ( perbuatan yang jelek) dan hadis-hadisnya maudu’ (dibuat-buat).
Syekh Zainuddin Ibnu Abdul Aziz Dalam Kitab Irsyadul Ibad, bab  shalat tatawwu’ syekh Zainuddin Ibnu Abdul Aziz ,  Mengatakan :
ومن البد ع  المذ مو مة  التي يا ثم فا علها ويجب على و لا ة الا مر  منع  فا علها    الر غا ىب اثنتا عشر ركعة بين العشاء ين ليلة اْ ول جمعة رجب و صلاة اليلة نصف شعبا ن ماْة  ركعة و صلا ة اخر جمعة  ر مضا ن سبع عشرة ركعة  بنية قضاء الصلوا ت الخمس الذ ي لم يتيقنه و صلاة يو م عا شو راء  ار بع  ركعا ت  او اكثر  و صلاة   الا سبو ع  اما احا ديثها فمو ضو عة با طلة[9]  
“ Dan sebahagian dari perbuatan bid’ah yang tercela (mazmumah)  yang berdosa melakukannya dan wajib melarang memperbuatnya  adalah shalat pada malam raghaib yaitu shalat 12 rakaat antara shalat magrib dan `isya pada malam pertama jumat bulan rajab, dan shalat pada malam nispu Sa’ban 100 rakaat dan shalat akhir Jum’at pada bulan ramadhan tujuh belas rakaat  dan shalat pada hari as- Syuro, 4 rakaat atau lebih dan shalat dalam satu Minggu, adapun hadis-hadisnya maudu’ ( dibuat-buat) dan bathil.
Begitu juga Dalam kitab I’anatut at-Thalibin, syekh Abiy Bakr menerangkan :
اما الصلا ة المعر وفة ليلة الر غا ئب و نصف شعبا ن و يو م عا شو ر وصلاة
 الا سبو ع فبد عة قبيحة  و ا حا د يثها  مو ضو عة [10]
“Dan adapun shalat yang dikenal seperti pada shalat pada malam raghaib, ( dijawa shalat seperti tobatan, ) dan shalat nisfu Sa’ban  dan shalat dalam satu Minggu ( seperti yang disebut oleh al-Gazali dalam Ihya)  adalah bid’ah qobihah ( perbuatan yang jelek) dan hadis-hadisnya maudu’ (dibuat-buat).
f.       Muhammad Jawad Mughniyyah, dalam karyanya Fiqih Lima Mazhab Mengatakan : shalat-shalat yang disunnahkan banyak macamnya diantaranya shalat-shalat rawatib. Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang jumlah rakaatnya. Imam Syafi’i rakaat shalat rawatib adalah sebelas rakaat, Hambali sepuluh rakaat, Hanafi shalat rawatib itu dibagi kepada dua macam yaitu sunah  masnunah ( disunnahkan)  dan mandubah,  menurut  mazhab Imamiyyah shalat rawatib itu setiap hari ada tiga puluh empat rakaat.[11]
g.      Ibnu Rusyd, Dalam kitabnya Bidayah al-Mujtahid, menyebutkan macam-macam shalat sunat.
ولان الصلاة التى ليست بمفروضة على ا لاعيان منها ما هي سنة ومنها ماهي نفل ومنها ما هي فرض على الكفا ية  وكانت هذه  الا حكا م منها ما هو متفق عليه   و منها ما هو مختلف فيه رأينا أن تفرد  القول فى واحدة من هذه  الصلوات وهي   بالجملة عشر ركعتا الفجر والوتر والنفل وركعتا دخول المسجد والقيام في رمضا ن والكسو ف والاستسقا ء والعيدا ن و سجود القران  والصلاة الميت[12]  
Shalat sunat yang bukan shalat fardu ain adalah berupa shalat sunat muqayyad, dan  shalat sunat mutlak dan bisa juga berbentuk                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              shalat fardhu kifayah hukum-hukumnya ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan shalat sunat tersebut, shalat witir, shalat dua rakaat fajar, shalat nafilah thathawwu yaitu’, shalat tahiyatul masjid, shalat tarawih, shalat gerhana, shalat istisqa’, shalat hari raya, sujud Qur’an, shalat jenazah.”

                        Dari kutipan Ibnu Rusy ini  pengarang  menyebutkan bahwa shalat-shalat sunat tersebut adalah :  berupa shalat sunat muqayyad, dan  shalat sunat mutlak dan bisa juga berbentuk     shalat fardhu kifayah hukum-hukumnya ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan shalat sunat tersebut, shalat witir, shalat dua rakaat fajar, shalat nafilah thathawwu’ yaitu, shalat tahiyatul masjid, shalat tarawih, shalat gerhana, shalat istisqa’, shalat hari raya, sujud Qur’an, shalat jenazah.
h.      Menurut Prof Dr. Wahbah Az.Zuhairi, dalam bukunya al-Fiqh al-Islamiy wa adillatuh,  beliau mengatakan setiap ibadah mempunyai tatawwu’nya karena itu tathawwu’nya shalat itu adalah sebaik-baik tatawwu’ menurut beliau masing-masing ulama madzab mempunyai istilah–istilah tersendiri dalam membagikan shalat nawafil.
1.      Mazhab Hanafi membagikan shalat nawafil kepada dua bagian yaitu Masnunah dan mandubah. Masnunah atau sunnah adalah suatu ibadah atau sunnah mu’akkadah yang senantiasa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dan terkadang ditinggalkan , namun itu jarang karena hanya menunjukkan bahwa amal itu bukanlah fardhu.  Sedangkan mandub adalah sunnah ghaiir mu’akkadah yang hanya terkadang dilakukan oleh Nabi SAW dan terkadang juga ditinggalkan.
2.      Menurut imam Malik  shalat-shalat tatawwu’ terbagi kepada 3 macam yaitu sunnah, fadhilah, dan nafilah.
3.      Menurut mazhab Syafi’i  shalat sunat dibagikan kepada sunnah mu’akkad dan sunnah ghairu muakkadah. Shalat muakkadah seperti sahalat rawatib dan witir, tahajjud, dhuha dan tarawih, dua rakaat setelah thawaf dan dua rakaat setelah ihram, tahiyat masjid, shalat sesudah berwuduk. Sunnah ghairu muakkad sebahagian shalat rawatib, sunat mutlak.
4.      Mazhab Hanbali hampir sama dengan Syafi’i. Shalat sunat ada yang dianjurkan berjamaah seperti shalat gerhana , istisqa’ dan tarawih, shalat nawafil yang dikerjakan sendiri-sendiri,  dan ada yang tidak disunatkan berjamah yang disebut dengan sunnah mu’ayyanah, nafilah mutlaqah.[13]
                              Dari berbagai  kutipan terhadap kitab-kitab fiqih diatas terlihat bahwa tidak satupun  kalangan para ulama, baik kalangan para pakar hukum (ulama mujtahid mutlak), seperti  imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan imam Hambali, dalam kitab Mazahibul arba’ah dan Bidayah al-mujtahid yang menyebutkan tentang adanya shalat hadiah dalam pembahasan dan ijtihad mereka. Begitu juga dari kitab-kitab fiqih klasik terutama kalangan Syafi’iyyah yang tidak satupun menyebutkan tentang pembahasan shalat hadiah dalam kitab mereka. Begitu juga ulama-ulama kontemporer seperti Prof. Dr. Sayyid Sabiq dan Prof. Dr. Wahbah Az-zuhairi  yang membahas tentang shalat hadiah,  begitu juga dari penelusuran penulis terhadap ulama – ulama Nahdatul Ulama (NU) dan ulama-ulama Muhammadiyah.  Ini berarti shalat hadiah tersebut tidak ada nasnya, dalil dari al-Qur’an dan al-Sunnah,  Dengan demikian shalat hadiah itu bukan termasuk shalat sunat dalam kalangan pakar-pakar hukum Islam.   
     Shalat-shalat yang mu’tamad yang bersumber dari nas-nas yang shahih yang disebut oleh para pakar-pakar fiqih terutama kalangan Syafi’iyyah, membagikan shalat sunat ini kepada dua macam, yaitu shalat sunat yang tidak disunatkan berjamaah dan shalat sunat yang disunatkan berjamaah yaitu :
1. Shalat rawatib                                                                                                  
2. Shalat witir
3. Shalat dhuha
4. Shalat tahiyatul masjid
5. Shalat shalat mutlak
6. Shalat istikharah
7. Shalat ihram
8. Shalat thawaf
9. Shalat sesudah berwuduk
10. Shalat awwabin
11. Shalat tasbih
12. Shalat tobat
13. Shalat jenazah
14. Shalat tahajjud, (qiyamullail)
15. Shalat hajat 
16. Shalat keluar untuk musafir, dan kembali dari musafir 
17. Shalat sunnah idul fitri
18. Shalat idul adha,
19. Shalat gerhana,(gerhana matahari)
20. Shalat  kusuf, (gerhana bulan)
21. Shalat  istisqa’
22. Shalat tarawih
23. Shalat sunat sesudah shalat jum’at

                  Sedangkan shalat- sahalat bid’ah perbuatan bid’ah yang tercela (mazmumah) yang berdosa melakukannya dan wajib melarang memperbuatnya  adalah
a.       Shalat Hadiah
b.      Shalat Nisfu Sa’ban
c.       Shalat Malam Rajab
d.      Shalat usbu’ (shalat setiap hari-hari dalam seminggu) disebut oleh al-Gazali dalam kitab Ihya’ ulum al-din
e.       Shalat pada malam raghaib yaitu shalat 12 rakaat antara shalat Magrib dan `Isya pada malam pertama jumat bulan rajab

f.        Shalat akhir jum’at pada bulan ramadhan tujuh belas rakaat

g.       Shalat pada hari Assyuro, 4 rakaat
                              Ibnu Taimiyah dalam tulisannya al-Qawaid an-Nurani al-Fiqhiyah mengatakan :
و العبادة لا بد أن يكون مأ مو را بها فما لم يثبت أنه مأمور به كيف يحكم عليه بأنه محظو ر و لهذا كان أحمد و غيره من فقهاء أهل ا لحديث يقو لو ن ان ا لاصل فى العبا دا ت التوقيف فلا يشرع منها الا ما شر عه الله و الا دخلنا في معنى قو له تعالى ( أم لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ[14]  
“ Dan dalam ibadah harus ada perintah terhadapnya, jika tidak ada perintah yang pasti bagaimana bisa menghukuminya. Oleh karenanya Imam Ahmad dan lainnya dari ulama-ulama hadis mareka berkata : sesungguhnya hukum asal dari ibadah adalah menyesuaikan dengan dalil, maka tidak ada hukum syara’ di dalam ibadah itu kecuali telah disyari’atkan oleh Allah , jika tidak kita akan terjebak dalam firman Allah SWT. (QS. asy-Syura ayat 21 ) : “ apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk agama mereka, sesuatu yang tidak ada izin terhadapnya dari Allah”.
Dalam hadis dari Aisyah Nabi bersabda :عن عا ئثة ر ضي الله عنها قا لت  : قا ل رسو ل الله صلى الله عليه و سلم من عمل عملا ليس عليه أ مرنا فأ مره رد [15]
Artinya : “Barang siapa melakukan suatu amalan  (perbuatan) yang tidak berdasarkan perintah kami, maka amalan itu ditola". (H.R. Ahmad ).    

            Imam Ibnu Taimiyah mengutip pendapat Imam Nawawi ketika menjelaskan tentang hadis    من عمل عملا ليس عليه أ مر نا فهو رد  sebagai berikut :
قا ل النووي : " وهذا الحديث قا عدة عظيمة من قوا عد ا لاسلام ومن جوا مع كلمه صلى الله عليه و سلم . وقا ل أيضا : فأنه ( أي : الحديث ) صر يح في ر د كل بدع وا لمختر عات . و فيه دليل على أن الا على أن ا لاصل في العبا دا ت الحظر فلا يشر ع منها و لا يزا د فيها ا لا ما يشر عه ا لله و رسو له[16] 
Imam an-Nawawi berkata : hadis ini adalah kaedah yang sangat agung dari kaedah-kaedah yang ada dalam Islam dan hadis ini juga meliputi seluruh perkataan Nabi SAW. Selanjutnya Imam Nawawi juga berkata : sesungguhnya hadis ini sangat jelas dalam menolak setiap bid’ah dan perbuatan-perbuatan baru. Di dalam hadis ini juga menunjukkan bahwasanya asal hukum dalam ibadah adalah terlarang (haram) , maka tidak boleh disyari’atkan dari ibadah tersebut dan tidak boleh ditambah-tambah ( ibadah yang sudah ada) didalamnya kecuali apa yang telah disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya.
               Ibnu Thaimiyyah  Rahimakumullah mendepenisikan bid’ah adalah  :
البد عة : ما خا لفت الكتا ب و السنة او اجماع سلف ا لامة من ا لاعتقا دات و العبا دات[17]
 bid’ah adalah : “Sesuatu yang menyesilihi atau menyimpang dari al-Qur’an atau sunnah dan Ijma’ salaful ummah, baik i’tikad  (sesuatu yang diyakini)  maupun ibadah  (sesuatu yang harus diamalkan)”.
Sedangkan Imam Nawawi menjelaskan bahwa bid’ah adalah  :
البد عة : هي احداث ما لم يكن في عهد ر سو ل الله صل الله عليه و سلم[18]                      
Bid’ah adalah : Mengerjakan sesuatu yang belum ada pada masa Rasulullah shollalohu ‘alihi wasallam.
                                                   Imam al-Syatibi membagikan bid’ah kepada bid’ah hakikiyah dan bid’ah idhofiyah. Bid’ah hakikiyah adalah bid’ah yang memiliki dalil syari’at baik dari al-Qur’an  dari hadis, ijma’ maupun dalil yang mu’tabar bagi ulama, baik secara global maupun secara terperinci. Sedangkan bid’ah idhofiyyah adalah bid’ah yang mempunyai dua akar, salah satunya memiliki dalil yang berkaitan sehingga dari sisi itu dia bukan bid’ah, sedangkan akar lainnya tidak memiliki dalil yang berkaitan artinya jika dilihat dari satu akarnya  maka dia dapat dikatakan perbuatan sunnah, sedangkan jika dilihat dari akar yang lainnya ia merupakan bid’ah karena bersandar  kepada sesuatu yang samar, bukan kepada dalil.[19]
Dalam Hadis  dari Ya’kup Nabi Bersabda :
 حدثنا يعقوب حدثنا ابراهيم بن سعد عن ابيه عن القاسم بن محمد عن عا ئثة ر ضي الله عنها قا لت : قا ل رسو ل الله صلى الله عليه و سلم : من  أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد [20]
Artinya :  “ Dari Umm al-Mukminin Ibu Abdullah Aisyah Radhiyallahu anhu , ia berkata barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini  ( Islam)  yang tidak kami lakukan , maka perkara tersebut tertolak,( HR. Bukhari ).
            Diriwayatkan dari Abi Najih al-Irbadh bin Sariyah  bahwa Rasulullah SAW bersabda :
اياكم و محد ثا ت الامور فإن كل محد ثة بدعة و كل بدعة ضلا لة وكل ضلا لة في النا ر[21]

Artinya :Hindarkanlah diri kalian dari berbagai perkara yang diada-adakan,    sebab, semua yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat .” (H.R. Abu Dawud dan Turmudzi).


[1]   Muhammad Ibn Abdullah al-Hakim al-Naisabuburiy, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihaini, ( Bairut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1990), Juz -1 h. 171.
[2] Syekh Abiy Bakri, I’anat  al-Thalibin, op.cit,  h.243-267.
[3] Shalat awwabin, shalat sunnah yang dikerjakan sesudah shalat magrib dan sebelum shalat isya’  ada beberapa riwayat tentang shalat  awwabin ini, sebahagian ulama menyebutnya 2 rakaat saja, namun ada juga pendapat menyebutkan bilangan rakaatnya   4 , 6 dan sampai 20 rakaat. Lihat,  I’anatut at-Tholibin, jilid 1, h. 258
[4] Ibnu Hajar al-Haytami, Tuhfah al-Muhtaj, ( Kulliyah daarul Ulum : juz 1 ) h.372-384
[5] Abdul Rahman al-Jaziriy, Mazahib al-Arba’ah,( Darul Pikri : 2008 ) Cet ke 2 , h.  281-315

[6] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Terjemah Ahmad Shiddiq Thabrani, dkk, ( Jakarta : PT Pena Puadi Aksara, Cet 1, 2009 ) jilid. 1 , h.288-345
[7] al-Gazali, Ihya ulumuddin, ( Surabaya : PT. Al-Hidayah, t.t ) jilid 1 , h.193-208  
[8]  Ibnu Hajar al-Haytami,Tuhf al-Muhtaj bi Syarh al- Minhaj , (Maktabah Assyaqofah ad-diniyah,  jilid 1,2009 ) hal.343  
[9] syekh Zainuddin Ibnu Abdul Aziz ,  Irsyad  al-Ibad, bab  shalat tatawwu’ ( Surabaya : Al-hidayah,)  h. 24
[10]. Syekh Abiy Bakhr , I’anat al-Thalibin jilid, (Surabaya, al-Hidayah, jilid 1 ) h.280
[11] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab,Terjemahan : dari al-Fiqhi al-Madzahib al-Hamsah, ( Jakarta : Lentera, 2009 )Cet ke- 24, h. 71-73  
[12] Ibnu Rusy,  Bidayatu al-Mujtahid wa Nihayatu al-Muqtashid ( Mesir : Musthafa al-Babi al-Halabi, 1975 ) jilid 1 h.183- 203

[13] Wahbah Az-Zuhaili,  Al-Fiqhul   al- Islam wa adillatuhu, Op.cit,  h. 201-227

[14] Ahmad bin abd al-Halim bin Taimiyah  al-Haraniy Abu al-Abbas, al-Qawaid an-Nuraniy al-Fiqyiyyah, ( Bairut : Dar al-Ma’rifah, 1989 ), h. 112
[15] Ahmad Muhammad  Syakir,  Musnad al-Imam Ahmad, ( Kairo :  Dar, al-Ma’arif, ), h. 974
[16]  Ibid  
[17] Ibnu Thaimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, (Asy-Syamilah, juz 18)   h. 346

              [18]  Imam Nawawi, Tahdzib al-Asma wal Lughot,  jilid. 3 h. 22
[19] Ibid.  h. 210
[20] Muhammad ibn Isma’il Abu ‘Abdullah al-Bukhari al-Ja’fani, Jami’ul Shahih Bukhari ( Bairut : Dar Ibn Kasir, jilid 6 ,1987 )
[21]Abu Dawud Sulaiman ibn -Asy’atas as-Sijistany, Sunan Abu Dawud, ( Mesir : al-Maktabah  al-Tijariyyah, ,1371 H/1950 M ) Juz IV. H.281

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 komentar: