Download this Blogger Template by Clicking Here!

PROFIL

https://web.facebook.com/irwan.a.lovers

Kamis, 10 Desember 2015

Widgets

SHOLAT HADIAH PERSPEKTIF ILMU HADIS





Setelah melakukan observasi  di lapangan penulis menemukan beberapa kitab rujukan yang dijadikan sebagai dasar pelaksanaan shalat hadiah, yaitu kitab yang ditulis  berbahasa arab seperti kitab Nazahatul Majalis  yang ditulis oleh Syekh Abdul Rahman As-Syofui’,  kitab Risalatul kubro yang ditulis oleh Syekh abdul Rahman bin Ahmad bin Abdullah bin Aliy Kafiy, Kitab Nihayatuz Zain yang ditulis oleh syekh Nawawi Al-Bantani,  kitab yang berbahasa Indonesia  dan kitab-kitab yang berbahasa melayu.  Dari berbagai referensi yang penulis temukan,  dalil- dalil yang dijadikan sebagai rujukan pelaksanan shalat hadiah adalah hadis yang berbunyi :
روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتى على الميت أشد من الليلة الأولى  ا لآولي, فارحموا بالصدقة من يموت. فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما: أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة, وآية الكرسى مرة, وألهاكم التكاثر مرة, وقل هو الله أحد عشر مرات, ويقول بعد السلام: اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد, اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور.[1]
  "    Diriwayatkan dari Rasulullah, Ia bersabda, “Tiada beban siksa yang lebih keras dari malam pertama kematiannya. Karenanya, kasihanilah mayit itu dengan bersedekah, siapa yang tidak mampu bersedekah, maka hendaklah sembahyang dua raka‘at. Di setiap raka‘at, ia membaca surat al-fatihah 1 kali, ayat kursi 1 kali, surat at-taktsur 1 kali, dan surat al-Ikhlash 11 kali. Setelah salam, ia berdoa, ‘Allahumma inni shallaitu hadzihis shalata wa ta‘lamu ma urid. Allahumma ab‘ats tsawabaha ila qabri fulan ibni fulan.  Tuhanku, aku telah lakukan sembahyang ini. Kau pun mengerti maksudku. Tuhanku, sampaikanlah pahala sembahyangku ini ke kubur (sebut nama mayit yang dimaksud), niscaya Allah sejak saat itu mengirim 1000 Malaikat. Tiap Malaikat membawakan cahaya dan hadiah yang kan menghibur mayit sampai hari kiamat tiba.
              Para ulama hadis  sepakat bahwa hadis yang dapat dijadikan hujjah dalam penetapan hukum adalah hadis yang memiliki ligitimasi hukum, yaitu hadis-hadis yang berkwalitas shahih, antara lain hadis-hadis yang mutawatir, hadis-hadis  shahih dan hadis hasan. Hadis-hadis tersebut disepakati oleh ulama hadis sebagai hadis shahih yang dapat dijadikan sebagai ligitimasi hukum.
Hadis  shahih artinya hadis yang sembuh, sehat, selamat dari cacat benar[2]
أ ما الحديث الصحيح : فهو الحديث المسند الذى يتصل اثناده بنقل اللعدل الضا بط الى منتهاه ولا يكو ن شا ذا ولا معللا[3]
“ Hadis shahih adalah hadis yang bersambung sanad-nya, (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan dhabit sampai akhir sanad (  di dalam hadis tersebut ) tidak terdapat kejanggalan (syudzudz) dan cacat (illat)”.

Ajjad al-Khatib memberikan depenisi hadis shahih, yaitu : “ Hadis yang bersambung sanadnya melalui periwayatan perawi yang tsiqat dari perawi lain yang tsiqat pula sejak awal sampai ujungnya ( sampai kepada Nabi ) tampa syuzuz tampa illat”.[4]
Dari depenisi di atas  maka yang disepakati oleh oleh mayoritas ulama hadis bahwa unsur-unsur sebagai syarat-syarat hadis yang shahih tersebut adalah :
1.      Sanadnya bersambung
2.      Seluruh periwayat dalam sanad tersebut bersifat adil
3.      Seluruh periwayat dalam sanad bersifat dhabith
4.      Sanad hadis tersebut terhindar dari syudzudz
5.      Sanad hadis itu terhindar dari illat. [5]
              Dengan demikian , suatu sanad hadis yang tidak memenuhi kelima unsur tersebut adalah hadis yang kualitas sanadnya tidak shahih dari segi syarat sebagai periwayat sanad hadis.
              Di samping itu,  para ulama hadis mensyaratkan  suatu syarat yang pokok dalam suatu hadis, dimana suatu hadis yang shahih wajiblah berisi komponen-komponen dalam hadis   yang  memenuhi 3 unsur pokok  (komponen ) dalam hadis,  yaitu sanad  atau  isnad ( rantai penutur) matan (redaksi hadis) dan rawi ( mukharij) orang yang menyeleksi hadis tersebut, sehingga hadis tersebut bisa dilacak, seperti hadis riwayat Bukhari, maka hadis tersebut bisa dilacak dalam shahih Bukhari, dll.
              Abdullah Ibnu Mubarok Berkata :
ا لاسنا د من الدين لو لا الاسناد لقال من شا ء ما شاء بيننا و بين القوم القوا ئم مثل الذي يطلب أمر دينه بلأ اسنا د كمثل الذي ير تقي السطح بلا سلم  [6]
Menerangkan sanad hadis termasuk tugas agama, andai tidak diperlukan sanad, tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. Antara Kami dengan mereka ialah sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya, tampa memerlukan sanad, adalah seperti orang yang yang menaiki loteng tampa tangga”.

             
              Imam Asy-Syafi’I berkata   :
مثل الذي ي يطلب الحديث بلأ اسنا د كمثل حا طب ليل[7]
Perumpamaan orang yang mencari ( menerima ) hadis tampa sanad sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari “.

              Apabila kita menganalisa tentang hadis-hadis yang dijadikan dasar sebagai pelaksanaan shalat hadiah sebagaimana yang tersebut dalam kitab  seperti Nazahatul Majalis  yang ditulis oleh Syekh Abdul Rahman As-Syofui’,  kitab Risalatul kubro yang ditulis oleh Syekh abdul Rahman bin Ahmad bin Abdullah bin Aliy Kafiy, Kitab Nihayh al-Zain yang ditulis oleh Syekh Nawawi Al-Bantani,  kitab yang berbahasa Indonesia  dan kitab-kitab yang berbahasa melayu.   
              Menurut hemat penulis hadis-hadis yang dijadikan sebagai rujukan pelaksanaan shalat hadiah tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagai hadis-hadis yang shahih . Hadis-hadis  ini lebih fatal lagi karena tidak memenuhi komponen-komponen (unsur-unsur pokok ) dari suatu hadis antar lain adalah :
a.    Hadis ini tidak memuat unsur-unsur pokok  suatu hadis seperti sanad , matan dan rawi
b.   Hadis ini terdaph alat keganjalan-kejanggalan pada matan hadis  seperti ganjaran yang berlebihan
c.    Hadis ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis yang populer sehingga hadis ini tidak dapat dilacak kebenarannya.
d.   Hadis ini sangat lemah kualitasnya
              Adanya alasan sebagaian ulama dan tokoh masyarakat Kabupaten Kerinci yang mengatakan bahwa bolehnya beribadah, beramal dengan menggunakan hadis-hadis yang lemah, seperti yang diungkapkan oleh Dr. Rasyidin (Desa Tanjung Pauh Mudik ) buya Muhammad Akram ( Desa Koto Dumo Tanah Kampong, Buya Hafni (Seleman)  Nazaruddin, S.Ag ( Desa Bunga Tanjung ) menurut hemat penulis adalah suatu kesalahan dalam memahami hadis –hadis yang berkwalitas daif tersebut.
              Dr. Muhammad Ajaj al-Khatib menyebutkan bahwa ada tiga pendapat dikalangan ulama –ulama hadis mengenai penggunaan hadis-hadis yang dha’if :
1.         Hadis dha’if tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadha’il amal maupun ahkam. Ini diceritakan oleh Ibn al-Arabiy, ia juga pendapat Imam Bukhari dan Muslim, berdasarkan kreteria-kriteria yang kita fahami dari keduanya , ia juga merupakan pendapat Ibn Hazm.
2.         Hadis dha’if bisa diamalkan secara mutlak, pendapat ini dinisbatkan kepada Abu dawud dan Imam Ahmad, karena hadis dha’if lebih kuat dari ra’yu perseorangan.
3.         Menurut Ibnu Hajar hadis dha’if  bisa digunakan dalam masalah fadho’il amal dengan syarat
a.    Kedhaifannya tidak terlalu, sehingga tidak tercakup didalamnya seorang pendusta atau tertuduh berdusta.
b.   Hadis dha’if itu masuk dalam cakupan hadis pokok yang bisa diamalkan.
c.    Ketika mengamalkannya tidak meyakini bahwa ia berstatus kuat, tetapi sekedar berhati-hati.[8]
              Menurut hemat penulis,  hadis-hadis yang dipergunakan oleh para ulama dalam melaksanakan shalat hadiah, disamping tidak memenuhi kwalitas hadis shahih, juga tidak memenuhi syarat kwalitas hadis-hadis dha’if sebagai hadis dha’if yang bisa diamalkan. Menurut hemat penulis hadis tentang shalat hadiah adalah hadis yang kedha’ifannya sudah sangat-sangat dha’if,   karena tidak terdapat padanya sanad dan rawi sebagai syarat utama dan komoponen-komponen yang wajib ada dalam suatu hadis, sehingga hadis  ini dapat dikelompokkan kepada hadis yang berkwalitas maudhu’ (hadis maudhu’).
              Muhammad Ajjad al-Khatib mendepenisikan hadis maudhu’ adalah :
هو ما نسب الى ر سول الله صلى الله عليه و سلم اختلا فا او كذ با مما لم يقله أو يفعله أو يقره[9]
“Sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, secara mengada-ada dan dusta , yang tidak beliau sabdakan, tidak beliau kerjakan ataupun beliau taqdirkan.”.
                        Tentang hukum mengamalkan , meriwayatkan hadis maudhu’  tersebut  M. Agus Solahudin, Agus Suryadi dalam bukunya Ulumul al-hadis mengatakan bahwa,  “Umat Islam sudah sepakat bahwa hukum membuat dan meriwayatkan hadis maudhu’  dengan sengaja adalah haram secara muthlak, bagi mereka yang sudah mengetahui bahwa hadis tersebut adalah palsu. Adapun bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadis ini palsu maka tidak ada dosa atasnya. Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mengamalkan makna hadis tersebut karena tidak tahu , maka tidak ada dosa atasnya. Akan tetapi, sesudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadis yang diceritakan dan diamalkan itu adalah hadis palsu, hendaklah segera ia tinggalkan, kalau tetap dia amalkan maka hukumnya tidak boleh (haram).[10]


[1] Syekh Nawawi Albantani, Nihayah al-Zain, (Bandung, al-Ma’arif) Hal. 107.
[2] Mifdhol Abdul Rahman, Pengantar Studi ilmu Hadis, ( Jakarta : Pustaka al-Kausar, 2009 ) h. 116
[3] M. Syuhadi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, ( Jakarta : Bulan Bintang, 1988 ) h.109
[4] Muhammad Thohan, Tafsir  fi ulum al-hadis, ( Bairut : Darul Fiqr ) h.305
[5] M.Syuhadi Ismail, op.cit., h.111
[6]  M. Agus Solahudin, dan Agus Suryadi, Ulumul Hadis, ( Bandung : CV. Pustaka Setia 2009 ) h.102  
[7] Ibid. h.103
[8] Muhammad ‘Ajaj al-Khathib, Ushul al-al Hadits , Pokok-Pokok Ilmu Hadis ( Jakarta : Gaya Media Pratama, Cet ke-2, 2001) h.315-316
[9] Ibid. ,  h.352
[10]    M. Agus Solahudin, Agus Suryadi,  Ulumul Hadis, ( Bandung  : Pustaka Setia 2009 ) h. 187

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 komentar: